Minggu, 01 Juni 2014

Gelap Gulita

01 JUNI 2014, 19:51 Aku tugas di sebuah pulau sangat terpencil. Telah berlalu 2 tahun dan hanya tersisa setahun lagi. Setelah itu, kembali gelap, penuh ketidakpastian. Masa depan yang cemerlang adalah harapan setiap orang. Anda sudah tahu itu. Entahlah ... Belum tahu alasannya ... mengapa aku seperti ditakdirkan selalu berada di daerah pinggiran. Antara ujung utara Sulawesi Selatan dan ujung selatannya. Lalu ada sedikit cahaya datang dari ujung utara Pulau Sulawesi. Masa depan penuh ketidakpastian. Belum ada rumus yang menyatakan kehidupan setelah hari ini pastilah baik ataukah buruk. Kehidupan bukanlah matematika. Hanya saja, apa yang diusahakan hari ini memiliki pengaruh terhadap nasib hari esok. Nasib hari ini merupakan hasil dari hari kemarin. Karena perubahan nasib seseorang ditentukan oleh konversi dirinya. Nasib berbeda dengan takdir. Takdir merupakan kewenangan Ilahi. Apakah itu terasa baik ataukah buruk. Jika terasa baik maka bersyukurlah. Bila terasa buruk maka bersabarlah. Kini zaman edan, bung ! Nasib kebanyakan rakyat kembali diobral murah. Demokrasi kembali dikemas secantik mungkin. Gelapnya demokrasi di hari kemarin seakan terlupakan. Anda sudah tahu itu. Semua media konvensional berbicara mengenai kepemimpinan perorangan. Gosip tentang sistem hidup bukanlah bahan perbincangan di warung kopi. Keduanya ibarat sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Nasib kita hari ini ditentukan oleh pilihan hidup hari kemarin. Kita telah memilih demokrasi dan akan memilahnya lagi buat esok hari. Hingga hidup akan terasa gelap kembali. Aku bertaruh hari ini, gadaikanlah panca indera kalian sekarang juga ! Satu dua tahun lagi bentuk bibir diantara kalian akan berubah seperti huruf U terbalik. Sebenarnya, ada setitik cahaya yang akan menerangi kegelapan kronis demokrasi. Cahayanya kian terang benderang. Perubahan itu datangnya seketika. Perubahan itu datangnya seketika. Ubahlah nasib kalian melalui tangan-tangan anda sendiri. Genggamlah cahaya itu kuat-kuat. Aku tugas di sebuah pulau sangat terpencil. Lampu disana tidak hidup selama 24 jam sebagaimana di daerah perkotaan. Terang benderang hanyalah pada pukul 6 sore hingga 12 malam. Setelahnya gelap gulita. Awalnya malam seperti itu terasa sulit. Lama-kelamaan timbullah adaptasi alamiah. Gelap bukan lagi penghalang utama untuk melakukan sesuatu. Biasanya lampu dihidupkan 24 jam jika ada pejabat kota yang datang. Saat itu orang-orang akan berkata,"lho kok nyala". Telah lama kita hidup di era demokrasi yang gelap. Generasi tua lebih lama lagi merasakannya. Dan kita telah beradaptasi terhadap kesulitan hidup demokratis. Hingga ketika datang cahaya yang akan menerangi kegelapan dan itu baik, kebanyakan orang akan berkata,"lho kok syari'ah" "lho kok khilafah". Namun Allah Ta'ala menjamin sudut bibir diantara kalian tak kan turun lagi. Selayar, 1 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar